Sebuah pintu misterius yang tampak menghubungkan dunia yang tak sama. Barangkali disana ada sebuah kehidupan seperti dalam buku Harry Potter bahkan mungkin dalam The Chronicles of Narnia. Kita tak pernah tahu tentang dunia seperti apa yang ada di balik pintu itu sebelum mencoba membukanya.
‘’Aaaaa aku ingin keluar dari dari Gedung iniiii !!!’’ teriak fara.
‘’Tenanglah Fara kita pasti bisa keluar,’’ ucap Ren.
‘’Aku juga harap begitu,’’ kata Digta.
Tiba -tiba Olivia menemukan sesuatu di sudut ruangan yang pengap itu.
‘’Teman -teman cepat kemari, aku menemukan sesuatu,’’ teriak Olivia.
‘’Buku apa itu kira -kira ?’’ tanya Ren dengan penasaran.
‘’Sepertinya itu bukan buku biasa,’’ jawab Digta.
Lalu Digta mengambil buku itu dan membukanya. Teman-teman Digta saling berdiri mengitarinya karena penasaran dengan isi dari buku itu.
‘’Kita bisa mati di Gedung ini, jika tidak membaca mantra yang ada dalam buku,’’ ucap Digta.
Ucapan Digta sontak membuat mereka tersentak kaget. Wajah mereka tiba-tiba menjelma seperti lampu yang meredup dalam ketakutan.
‘’Apa tidak ada cara lain?’’ tanya Ren.
‘’Tidak ada,’’ jawab Digta.
‘’Kita harus mencoba teman -teman. Jika tidak mencoba, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi,’’ kata Fara menyakinkan teman-temannya.
Akhirnya mereka saling setuju hingga memutuskan untuk membaca mantranya
bersama.
“Ibium ibium idebo idebo kotao,’’ ucap mereka dengan lantang.
Tiba – tiba terjadi fenomena yang tak pernah mereka temukan sebelumnya. Buku tersebut mengeluarkan sebuah pintu.
‘’Sepertinya itu sebuah portal,’’ kata Digta.
‘’Kira-kira akan membawa kita kemana ya?’’ tanya Ren.
Lalu tanpa aba -aba, tiba-tiba pintu tersebut terbuka. Pintu itu menyedot mereka masuk kedalamnya. Mereka tak tahu bahwa kemana pintu itu akan membawa pergi. Langit di balik jendela tampak biru bersama gerumul awan yang saling beriringan.
Hembusan angin menerpa hiasan burung dari origami yang menggantung di dalam jendela. Suasana kelas menunjukkan kedamaian yang menenangkan ketika Bu Eva melakukan absen pembelajaran.
‘’Zahara Sakina hadir Bu,’’ jawab Zahra.
‘’Julia Putri hadir Bu,’’ jawab Putri.
‘’Digta Diandra apakah hadir?’’, tanya Bu Eva.
‘’Sekali lagi Digta Diandra,’’ tegas Bu Eva karena tidak ada jawaban apapun.
‘’Yang terakhir, Digta Diandra apakah ada di kelas ini?’’ tanya Bu Eva dengan melihat wajah-
wajah siswanya.
‘’Tidak masuk Bu,’’ jawab salah satu siswa.
‘’Ada yang tahu kenapa Digta tidak masuk sekolah?’’ tanya Bu Eva dengan wajah yang khawatir.
‘’Tidak tahu Bu,’’ jawab seluruh siswa dengan kompak.
‘’Baiklah kalau begitu,’’ kata Bu Eva.
Kriiiiiing ….. Suara bel berbunyi sebagai tanda berakhirnya pembelajaran di kelas saat itu.
‘’Oliviaaa!!! tunggu,’’ teriak Fara.
‘’Iya aku tunggu,’’ jawab Olivia.
Lalu, Fara dan Olivia pulang bersama dengan berjalan kaki menuju rumah Ren untuk mengerjakan tugas kelompok.
‘’Astagaa!!!’’ teriak Fara.
‘’Ada apa?’’ tanya Olivia dan Ren serempak.
‘’Bukuku tertinggal di kelas. Padahal ada tugas yang harus dikerjakan,’’ kata Fara.
‘’Ya sudah bagaimana kalau kita pergi ke sekolah mememani Fara,’’ ucap Olivia mengajak Ren.
‘’Baiklah, lagipula belum terlalu sore,’’ kata Ren.
Setelah memasuki area lapangan sekolah, mereka melihat sosok anak yang tidak asing tampak berjalan melewati lapangan sekolah menuju ke sebuah lorong bangunan.
‘’Oliviaa coba lihat itu!’’ kata Ren dan Fara bersamaan.
‘’Hah, itu Digta?’’ tanya Olivia.
‘’Iya itu, benar -benar Digta,’’ jawab Ren.
‘’Tapi apa yang dilakukan di sekolah saat sore begini?’’ tanya Fara.
‘’Tampak sangat mencurigakan. Sepertinya lebih baik kita mengikutinya diam -diam,’’ kata Ren.
Lalu, mereka mengikuti arah tujuan dari Digta―sebuah gedung yang paling tua di sekolah. Orang-orang yang datang ke gedung itu hanya bisa memasuki lantai 1 dan 2. Sementara itu, lantai 3, 4, dan 5, tidak bisa sembarang orang masuk bahkan para siswa dan staf kebersihan. Satu-satunya orang yang bisa memasuki lantai 3 dan seterusnya adalah Bapak Kepala Sekolah. Ada beberapa rumor yang beredar bahwa gedung itu merupakan bangunan yang misterius.
Akhirnya, mereka berhasil mengikuti tanpa Digta tahu. Setibanya di tangga lantai 2 yang menuju lantai 3 yang tampak dipasang tralis dan terkunci. Digta terlihat mencoba menghancurkan gembok tersebut. ‘’Apa yang sedang kau lakukan?’’ tanya Fara yang membuat Digta tersentak kaget akan kehadiran mereka.
‘’Aku tak bisa menjelaskan, tapi aku butuh bantuan kalian sekarang !!!!’’ tutur Digta.
‘’Bantuan untuk apa?’’ tanya Ren.
‘’Untuk naik ke lantai atas karena ada sesuatu yang harus aku cari di sana. Aku mohon tolong bantu,’’ kata Digta.
Akhirnya mereka pun setuju untuk membantunya. Setelah berhasil membuka pintu tralis tersebut, mereka langsung naik menuju lantai 3. Tapi anehnya, semakin mereka memasuki lorong -lorong yang ada di gedung itu terasa semakin jauh dari arah tangga saat masuk. Akhirnya, mereka mencoba memasuki setiap ruangan yang ada. Namun, apa yang mereka lakukan sia-sia. Hingga mereka pun tertuju pada ruangan terakhir yang ada sebuah pintu yang tiba-tiba muncul dari sebuah buku.
Setelah mengucapkan sebuah mantra dari buku secara bersamaan. Mereka berjalan ke arah pintu yang muncul dengan cahaya yang menyilaukan. Mereka pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam pintu.
‘’Aaaaa!!!!! Bruuuuk… Aduh sakit,’’ keluh Farah.
‘’Kepalaku pusing,’’ ucap Olivia.
‘’Aku juga,’’ sahut Ren mencoba membangunkan diri.
Tak berselang lama, kesadaran Ren pun kembali. Lalu, melihat sekeliling tempat mereka terjatuh.
Mereka tercengang seketika melihat apa yang di hadapannya yaitu sebuah kota yang sangat indah, terdapat gedung-gedung tinggi, benda -benda terbang yang mirip mobil dan motor akan tetapi memiliki sayap. Dan masih banyak lagi banda aneh entah apa itu― yang melayang-layang di udara.
‘’Dimana kita sekarang?’’ tanya Fara yang membuat teman -temannya tersadar.
‘’Entahlah aku juga tidak tahu,’’ jawab Digta yang sedari tadi hanya diam.
Tiba-tiba muncul sebuah robot yang mirip manusia di depan mereka. Robot itu mendekat ke arah mereka.
‘’Haiiiii, semua,’’ sapa robot itu.
Mereka pun serempak kaget karena melihat robot bisa berbicara seperti manusia.
‘’Selamat datang di Kota Digita, namaku Robi. Nama kalian siapa?’’ tanya Robi.
Olivia pun memberanikan diri untuk berbicara.
‘’Namaku Olivia, yang berambut pendek― Fara, sedang yang berbaju hitam ini Ren, dan ini
yang bermata cokelat Digta,’’ jawab Olivia.
‘’Baiklah daripada berlama-lama, ayo aku akan mengajak kalian ke suatu tempat, di kota Digita,’’ kata Robi.
Tiba -tiba muncul sebuah benda yang hampir mirip mobil akan tetapi memiliki sayap pesawat dan bisa mengambang terbang di udara. Lalu merka masuk ke dalam kendaraan yang entah apa namanya―membawa mereka terbang. Selama di dalam perjalanan, Robi bertanya mengenai cara mereka bisa sampai ke sini. Digta pun menjawab bahwa kesini dengan melewati pintu dari sebuah buku.
‘’Buku apa?’’ tanya Robi.
‘’Entalah, sepertinya penghubung ke dunia ini,’’ jawab Digta.
Lalu, Robi mengangguk. ‘’Kita sudah sampai di pusat kota Digita cerminan dunia masa depan,’’ kata Robi.
Lalu, mereka turun dari mobil terbang tersebut langsung terpana pada benda -banda kecil yang melayang -layang yang kiranya menyerupai layar monitor.
‘’Sentuh saja benda itu lalu bayangkan apa yang ingin kalian makan, nanti akan mengeluarkan
makanan yang kalian inginkan,’’ kata Robi.
Lalu mereka mencobanya seketika keluarlah pizza, yang lezat dari benda tersebut. Mereka mencoba makan dan rasanya sungguh lezat. Setelah mengisi perut, Robi membawa mereka ke sebuah taman untuk beristirahat sejenak.
Setelah beristirahat sejenak. Tiba-tiba Olivia pun teringat sesuatu.
‘’Digta, dimana buku tadi?’’ tanya Olivia.
‘’Sepertinya ada di tas Fara,’’ kata Digta.
Lalu, Fara pun memberikan buku tersebut kepada, Digta. Lalu, Digta mambuka buku tersebut.
‘’Sepertinya kita harus segera pergi dari sini dan pulang ke dunia kita,’’ kata Digta.
‘’Memangnya kenapa?’’ tanya Ren.
‘’Karena jika lebih dari 24 jam di sini, kita tidak dapat pulang ke dunia nyata untuk selamanya,’’ kata Digta.
Seketika perkataan Digta membuat mereka terkejut.
‘’Lalu harus bagaimana?’’, tanya Fara.
Mereka pun tersentak diam tak bisa menjawab pertanyaan dari Fara.
‘’Bukankah kita ke sini dengan membaca mantra? Bagaimana kalau kita mambaca kembali yang membawa kita ke sini?’’ tanya Digta.
Akhirnya mereka pun setuju dan mengucapkannya bersama.
‘’Ibium ibium idebo idebo kutao,’’ teriak mereka berempat. Tapi tidak ada perubahan apapun.
‘’Bagaimana ini?’’ tanya Fara.
‘’Coba baca sekali lagi,’’ kata Ren.
Akhirnya mereka pun mencoba membacanya sekali lagi dan masih saja belum ada perubahan sama sekali.
‘’Aaaaaaa, tolong aku tidak mau, tersesat lagiiii!’’ teriak Fara.
‘’Mungkin ada yang salah,’’ kata Digta.
Mereka pun berusaha berpikir keras.
‘’Sepertinya ada yang salah,’’ kata Fara.
‘’Iya, waktu kita baca, saat mau ke sini, ‘idebo’ Berarti seharusnya kebalikkan, berarti kan seharusnya ‘odebi’,’’ saran Ren.
‘’Ibium ibium odebi odebi kutao’’ teriak mereka serempak.
Dan seketika wuuuush, mereka menghilang dan kembali ke samping gedung misterius itu.
‘’Syukurlah, kita bisa pulang,’’ ucap Fara.
Mereka bersyukur karena bisa kembali. Tiba -tiba datang sebuah sosok yang tak asing bagi mereka semua, mendekat ke arah mereka dengan wajah yang sangat marah.
‘’Apa yang kalian lakukan di sini,? Seharusnya kalian tidak berada di sini,’’ bentak Bapak Kepala Sekolah kepada mereka.
Mereka pun terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dengan beraninya Digta menjawab, ‘’Jika bapak menanyakan apa yang sedang kami lakukan, saya mengajukan pertanyaan yang sama. Apa yang bapak lakukan sore hari begini,? Bukankah ruang kepala sekolah berada di Gedung Utama ? dan lokasi gedung tua ini jauh dari Gedung Utama? Jadi sebenarnya apa yang bapak lakukan di sini?.’’
Bapak Kepala Sekolah seketika terdiam dan tak bisa mengelak sama sekali dengan pertanyaan Digta. Mereka pun terlebih kaget akan apa yang dilakukan Digta. Lalu, Bapak Kepala Sekolah pun mengambil nafas dalam -dalam dan menghembuskannya.
‘’Sepertinya kalian sudah mengetahui rahasia di balik Gedung ini,’’ kata Bapak Kepala Sekolah.
‘’Iya, kami sudah tau semuanya,’’ jawab Ren.
‘’Kenapa bapak menyembunyikan hal ini?’’ tanya Digta.
‘’Karena akan membahayakan jika banyak yang tahu dan juga pasti banyak yang mati karena tak bisa keluar dari gedung itu dan tak bisa menyelesaikan permainannya,’’ kata Bapak Kepala Sekolah.
‘’Jadi tolong rahasiakan hal ini,’’ kata Bapak Kepala Sekolah.
Akhirnya kami pun mengangguk kecuali Digta.
‘’Jadi jika seseorang tak bisa menyelesaikan permainannya berarti tak akan bisa kembali?’’ tanya Digta yang air matanya perlahan-lahan jatuh.
‘’Iya, sama seperti apa yang kaucari. Dia tak akan bisa kembali, Digta.
Jadi, bapak mohon tolong ikhlaskan dia dan tolong maafkan dia. Maafkan bapak karena tidak bisa menemukannya, dan tolong kenang kebaikannya. Semua terjadi terjadi karena kehendak
Tuhan, bukan karena kehendak manusia. Jadi bapak mohon tolong untuk ikhlaskan kakakmu yang telah masuk ke dunia portal itu. Digta, bapak mohon ya,’’ ucap Bapak Kepala Sekolah
sembari berlinang air mata.
Lalu, Bapak Kepala Sekolah pun memeluk Digta dengan sangat erat. Teman-teman Digta yang melihat pun ikut meneteskan air mata. Teman-temannya tersadar bahwa Digta tidak masuk sekolah selama ini karena berusaha mencari kakaknya yang hilang secara misterius di gedung itu.

