u3-flutie8211-portal-10002185_1920
Cerpen Pintu Rahasia di Rumah Dayang karya Nur Safikah

‘’Tangkap mereka!!! Jangan sampai lepas! Bawa mereka kepada raja Mulawarman!, ucap salah satu prajurit Kerajaan.’’

Itulah yang kuingat terakhir kali sebelum sesuatu yang keras mengantam kepalaku. Padahal aku sudah berlari sekencang-kencangnya. Pada akhirnya aku tak bisa menyusul. Saat tersadar tangan kami sudah diikat tanpa bisa menjelaskan apapun. Aku hanya bisa terdiam meratapi nasib. Aku bahkan pasrah kalau akan dibunuh menggunakan tombak atau dibakar hidup-hidup sekalipun.

Toktoktok, bunyi ketukkan disertai derit pintu yang terbuka. Dua pasang kaki berjalan masuk ke dalam ruangan.
‘’Ibu, apa yang sedang engkau lakukan? Kenapa semua barang tiba-tiba dikemas? Kita akan pergi kemana?, tanya Dayang kepada ibunya.’’

Tak ada sepatah katapun yang terucap dari ibunya untuk menjawab Dayang meski berulangkali dicecar pertanyaan. Dayang merasa keanehan terjadi dengan raut wajah ibunya. Meski ada rasa penasaran yang sangat mendalam dan bingung dari dirinya, Dayang lebih memilih untuk terdiam dan melihat apa yang akan terjadi kedepannya.

‘’Kenapa sekolah ini berstruktur klasik ya? Padahal zaman sudah modern, gumam Dayang sambil melewati pinggir lapangan menuju kelas barunya.’’
Tak lama kemudian terdapat sahutan dari belakangnya. ‘’Karena sekolah ini merupakan bangunan bekas markas jajahan Belanda dulunya, ucap seseorang.’’

Dayang spontan menoleh ke arah belakang supaya bisa melihat seseorang yang menjawab pertanyaannya itu. Ternyata yang menjawab Adalah Kutra, teman baru satu-satunya di kelas. Dayang merupakan anak pindahan dari ibu kota. Anak-anak lain takut dengannya karena Dayang tinggal di sebuah rumah yang ternyata dulunya terbengkalai. Sebelumnya, rumah itu memiliki desas-desus bahwa siapapun yang tinggal disana pasti akan menghilang bahkan tanpa pernah ditemukan.

‘’Bagaimana dengan rencana kita?, tanya Kutra.’’

‘’Jadi, jangan lupa datang ke rumah sekitaran pukul 18.00. Jangan sampai telat, jawab Dayang.’’
‘’Baik, jawab Kutra.’’

Toktoktok, suara pintu terdengar. ‘’Ayo cepat masuk, kata Dayang sambil membukakan pintu.’’
‘’Jadi, dimana ruangannya? tanya Kutra dengan penasaran.’’
‘’Ikuti saja aku, jawab Dayang.’’ Dayang membawa Kutra ke arah dapur tanpa banyak bicara.
‘’Dorong lemari itu! Perintah Dayang kepada Kutra.’’ Kutra pun mendorong lemari itu, ternyata
di baliknya terdapat sebuah pintu yang terkunci.
‘’Ini pintunya? tanya Kutra.’’
‘’Ya, ini betul pintu ruangan bawah tanah, jawab Dayang dengan gemetar.’’

Kutra pun terpana melihat pintu yang ada di hadapannya. Awalnya, ia tak percaya. Kutra mengira bahwa Dayang bercanda ketika memberitahukannya kemarin. Keduanya telah berencana untuk pergi ke ruang bawah tanah karena orangtua Dayang sedang tidak berada di rumah.
‘’Apa kau punya kuncinya? tanya Kutra.’’ Kutra pun membuka pintu tersebut sembari bertanya kepada Dayang mengenai keinginan memecahkan misteri dari ruang bawah itu.
‘’Apakah kita akan sungguh masuk ke balik pintu misteri itu? tanya Kutra.’’
‘’Ya, aku yakin. Ini merupakan petunjuk untuk memecahkan misteri dari penghuni rumah yang menghilang sebelumnya, jawab Dayang.’’

Dayang telah melanggar perintah orangtuanya untuk tidak membuka pintu ruang bawah tanah. Kutra menuruni anak tangga bersama Dayang. Mereka menggunakan sebuah senter untuk menerangi lorong yang gelap. Semakin menuruni tangga membuat mereka takut dan cemas karena jalannya seperti tak ada ujungnya.
Hingga keduanya menemukan sebuah pintu.

‘’Apa ini semua hanya ilusi? tanya Kutra.’’
‘’Entahlah, apa kita kembali saja? tanya Dayang.’’

Ketika mereka menoleh ke belakang seketika tangga yang telah dilewati lenyap. Tiba-tiba keduanya berdiri di sebuah ruangan yang kosong dan gelap. Pintu yang ada di hadapan mereka juga turut menghilang. Tiba-tiba muncul 3 pintu yang baru di hadapan mereka.

Kutra pun membuka salah satu pintu dari ketiga pintu tersebut. Dayang mengikutinya dari belakang. Ketika pintu itu terbuka, mereka seolah tertarik oleh sesuatu yang memaksa masuk ke dalamnya.

‘’Akhhh kepalaku pusing, keluh Dayang.’’
‘’Aku pun merasakan yang sama, jawab Kutra.’’
‘’Dimana kita sekarang, tanya Dayang.’’ Pertanyaan tersebut tak dapat dijawab oleh keduanya.

Kutra sendiri pun bingung akan keberadaan mereka. Kutra dan Dayang berjalan untuk memerhatikan yang ada di sekeliling. Mereka sadar bahwa tiba-tiba berada di pinggiran hutan Sungai Mahakam sejak membuka pintu misterius dan terasa telah terjatuh.
‘’Apa yang kalian lakukan di situ? tanya seorang petani yang muncul tiba-tiba.’’ Kutra dan

Dayang pun terkejut ketika melihat seorang petani tengah menyapa.

‘’Darimana asal kalian berdua, nak? tanya petani.’’
Kemudian, Kutra dan Dayang menjelaskan segalanya yang telah menimpa. Meski petani itu tampak ragu dan bingung, Kutra dan Dayang akhirnya bisa dipercaya. Petani itu mengajak keduanya ke rumahnya untuk beristirahat. Petani itu bernama Pak Wara.
‘’Pak Wara, sekarang kami berada di mana? tanya Dayang.’’
‘’Kalian sekarang berada di Kerajaan Kutai Martadipura yang dipimpin oleh Raja Mulawarman. Kerajaan ini berada di dekat Sugai Mahakam yang merupakan jalur perdagangan antara Cina,
India, dan kerajaan lainnya. Mereka saling hilir mudik untuk berdagang mulai dari emas, rempah-rempah, dan rotan damar, jawab Pak Wara yang mencoba menjelaskan.’’

Dayang dan Kutra pun mengerti apa yang telah disampaikan oleh Pak Wara. Keduanya tersadar bahwa telah kembali ke masa lalu. Meskipun demikian, mereka mencoba untuk tenang dan mencari cara keluar dan kembali ke pintu misterius di ruang bawah tanah rumah Dayang. Kutra pun keluar rumah untuk melihat kondisi di luar. Ia terpana ketika melihat keindahan sekeliling yaitu rumah-rumah panggung dari kayu ulin yang kokoh supaya terhindar dari banjir apabila Sungai Mahakam meluap. Para petani yang sibuk mencangkul sawah sembari menanam umbi-umbian dan buah-buahan. Sementara yang lain tengah menggembalakan sapi.

‘’Kenapa lebih banyak warga yang ternak sapi? tanya Dayang yang tiba-tiba sudah ada di belakang Kutra.’’
‘’Apa kau tidak pernah belajar sejarah? tanya Kutra.’’
‘’Memangnya kenapa? tanya Dayang yang mulai penasaran.’’
‘’Karena menurut Sejarah, kerajaan ini sangat makmur ketika dipimpin oleh Raja

Mulawarman. Sang Raja Mulawarman pernah menyumbang sebanyak 20.000 ekor sapi dan ribuan emas kepada para Brahmana sebagai tanda kedermawanannya. Saat itu disebutkan
bahwa warga masyarakat tengah menganut kepercayaan Hindu, jawab Kutra yang berusaha menjelaskan.’’

Kemudian, Pak Wara mengajak Kutra dan Dayang ke pinggir Sungai Mahakam. Mereka melihat-lihat keramaian pedagang yang tengah berjualan.

‘’Lari, semuanya cepat lari, teriak salah satu warga di dekat dermaga Sungai Mahakam.’’ Tiba- tiba para perajurit berlarian mengejar seseorang sontak Dayang dan Kutra pun panik hingga turut berlari. Seseorang telah dikejar oleh prajurit itu adalah gadis Tionghoa. Dia tampak mencurigakan hingga dibawa ke hadapan Sang Raja. Salah satu prajurit menjelaskan kepada warga yang turut panik dan penasaran. Nasib tak berpihak kepada Dayang, ia juga turut diseret ke kerajaan untuk menghadap raja.

Saat ini Dayang tengah berada di pusat kerajaan. Ia terkejut karena istana raja terbuat dari kayu besar dengan atap bertingkat dihiasi oleh ukiran motif Hindu seperti Dewa Siwa dan Dewa Wisnu. Disana juga terdapat gamelan sederhana yang mungkin terbuat dari bambu dan kulit binatang. Barangkali dipakai untuk mengiringi tarian sakral. Akan tetapi, keindahan yang menyilaukan itu tidak dapat menutupi kecemasannya saat ini ketika dibawa ke hadapan raja dengan tangan yang terikat dan mulut yang tertutup.

‘’Buka penutup mulutnya!, perintah Raja Mulawarman.’’ Tiba-tiba datang Pak Wara bersama Kutra serta pengawal raja yang lain. Pak Wara ingin menjelaskan segala kesalahpahaman yang terjadi. Para prajurit mengira bahwa Dayang menjadi bagian dari salah satu komplotan pedagang Tionghoa yang mencuri batu yang bertuliskan aksara Sanksekerta untuk dijual di kerajaan seberang.
Setelah permasalahan selesai, tiba sang raja untuk bertanya,

‘’Apakah benar jika engkau dari masa depan?’’
‘’Ya paduka raja, kami datang dari masa depan, jawab Dayang yang sedari tadi hanya terdiam.’’
‘’Jika benar demikian, sekarang yang kutanyakan bagaimana masa depan kerajaan ini? tanya raja dengan penasaran.’’
‘’Izinkan saya untuk menjelaskan. Jadi, kerajaan ini telah mencapai puncak kejayaan pada masa yang paduka pimpin. Tetapi mulai melemah setelah kekuasaan paduka tepatnya pada abad ke 14. Kerajaan Kutai Martadipura runtuh karena ditaklukkan oleh kerajaan tetangga yakni Kutai Kartanegara. Meski sudah ditaklukkan, warisan dan tradisi masih bertahan hingga ke masa depan. Rasa hormat kepada Sungai Mahakam sebagai sumber kehidupan masih dijunjung hingga masa depan, jawab Kutra yang berhati-hati dalam menjelaskannya.’’

Belum selesai Kutra menjelaskan, tiba-tiba muncul sebuah pintu di ruangan singgasana raja yang terbuka dan menarik segala barang yang ada termasuk Kutra dan Dayang. Keduanya masuk ke dalam pintu dan hilang meninggalkan istana tanpa jejak hingga timbul suasana yang tegang di istana. Sementara itu, Dayang dan Kutra sudah sampai di depan pintu ruang bawah tanah yang berada di balik dapur Rumah Dayang.

Melihat sekelilingnya kembali normal, Dayang dan Kutra berusaha menyadarkan diri. Keduanya memutuskan untuk keluar dari ruang bawah tanah. Di dapur tampak orangtua Dayang duduk menunggu. Ibu Dayang seketika berlari memeluk keduanya. Orangtua Dayang mengajak keduanya berbincang atas apa yang dialami. Sebuah buku ditunjukkan kepada keduanya. Mereka membaca setiap lembaran yang telah usang itu.

Tampaknya dunia masa lalu tersebut telah ditulis oleh kakek Dayang yang tak lain merupakan Pak Wara yang telah dijumpainya. Orangtua Dayang melarang untuk masuk ke dalam ruangan itu karena beberapa orang yang telah terjebak disana akan sulit kembali ke masa depan. Keduanya beruntung karena berhasil kembali.

‘’Dahulunya, Kutai memang memberikan keasrian dan pesona akan sejarahnya. Di berbagai sudut masih rimbun akan hutan hujan tropis yang menjulang tinggi jejeran pepohonan ulin.
Burung Enggang, bekantan, dan satwa yang lain masih bebas berkeliaran. Setiap kampung Dayak sering mengadakan pagelaran seni baik itu tarian hingga upacara adat. Mereka masih
teguh menjunjung budaya dan adat istiadat hingga kini termasuk Tari Hudoq bahkan Lom Plai, jawab Ayah Dayang berusaha menjelaskan kepada keduanya.’’

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait