‘’Lari! Cepat, lari!! Jangan sampai kita tertangkap!’’
Teriakan itu terus bergema di antara heningnya malam dan suara gonggongan anjing saling menyalak. Gladis berlari sembari membawa tas yang kugendong di pundak tanpa melihat ke arah lain selain sebuah tembok.
‘’Cepat, naik ke temboknya! seru Senja kepada Gladis. Ia mendorong tubuh Gladis agar bisa melewati tembok besi dan bergerigi itu. Gladis mengulurkan lengan untuk membantunya naik tapi justru terlambat. Senja sudah tertangkap sebelum melewati gerbang. Sebelum itu, Gladis mengira bahwa Senja akan mengucapkan selamat tinggal tetapi malah tersenyum melihatnya. Tatapannya seolah berkata ‘’Pergilah yang jauh. Jangan kembali lagi, di sini bukan tempat untukmu. Tak mengapa tinggalkan aku di sini saja’’.
Dengan terpaksa, Gladis menuruni tembok tersebut sendirian. Ia berlari sekencang mungkin, agar bisa terhindar dari incaran orang dewasa. Meski dalam keadaan tersebut, ia terpaksa meninggalkan temannya.
5 tahun yang lalu…
‘’Kamu di sini dulu ya….tinggalnya, sayang…..,nanti kalau Bunda udah selesai kerja, Bunda pulang jemput kamu’’, ucap seorang perempuan yang tampak pilu.
Itulah kata-kata terahir yang diucapkan oleh Bunda, sebelum manangis tersedu-sedu melihat Gladis.
‘’Ini bunda kasih kamu gelang yang ada nama kamu biar kalau ketemu lagi, bunda tahu itu kamu,’’ ucap Bunda. Gelang berwarna perak yang terukir sebuah nama ‘’GLADIS’’ terpakai di tangan mungilnya. Dan Gladis hanya dapat termangu menatap kepergian sang Bunda di depan pintu, berharap sang Bunda akan segera kembali.
Cetarrr cetarrr cetarrr (suara seorang perempuan paruh baya terdengar melengking dari dapur), ‘’DASAR ANAK BODOH, UDAH DIKASIH MAKAN, DIKASIH NUMPANG, GAK TAHU DIRI…..,MASA DARI PAGI SAMPE MALEM CUMA DAPAT SEGINI….?!!!, MEMANG ANAK TAK TAHU DIUNTUNG !!!…..’’ Setelah selesai segala macam makian. Sang Perempuan serakah itu, masuk ke dalam. Ia menambil sisa nasi kemarin yang hampir basi, tanpa belas kasihan melemparkan piring itu kepada anak perempuan yang terduduk merintih kesakitan, sekujur tubuhnya terasa perih dan merah akibat cambukan ikat pinggang. Dengan tubuh yang kurus kering serta baju copang-camping dengan tangan yang gemetar berusaha mengambil nasi yang hampir basi. Disuapi ke mulutnya untuk dikunyah. Dengan air mata yang sudah mengalir di pipi tirus itu serta rasa sakit di dada yang begitu menyesakkan hati yang rapuh dan diisi jiwa yang hampir kosong. Dengan lirih berkata, ‘’Bunda…kapan bunda jemput aku,?…aku cepek di sini bun….kalau seandainya bunda udah di atas langit sama ayah…jangan lupa jemput aku juga…’’ rintih Gladis dalam hati.
Keesokan paginya…
‘’Aku pergi dulu yaa…’’ ucap Gladis.
‘’Yaa, cari uang yang banyak, kalau sampai pulang gak bawa uang…mending gak usah pulang,’’ ucap Tantenya yang sedang mengomel.
Si gadis kecil itu keluar menelusuri gang kumuh dan kotor yang ada di Jakarta, dengan kedua tangan kecil memegang erat kecapi.
Brakkkk….suara tabrakkan yang cukup keras serta benturan keras menghantam tubuh gadis kecil itu. Tiba-tiba ada hal yang terlintas di pikirannya sebelum semuanya menjadi gelap. ‘’Apakah aku sudah mati? Ucap Gladis dalam hati.
Tit…tit…..tit…..suara patient monitor yang menggema di seluruh ruangan bernuasa putih, yang penuh dengan bau obat-obatan. ‘’Syukurlah kamu sudah sadar…’’ kata seorang Wanita paruh baya dangan lembut. Gladis hanya bisa terdiam… Ia bingung mengapa berada di rumah sakit.
Akhirnya, sang ibu dan dokter menjelaskan bahwa Gladis tertabrak oleh sebuah mobil, yang tanpa sengaja tadi pagi. Singkat cerita, Gladis ditawari untuk masuk ke sebuah panti asuhan yang berada di daerah kota Surabaya, daripada menggelandang dan mengamen di jalanan ibu kota Jakarta tak tentu arah. Akhirnya, Gladis si gadis kecil itu menerima tawaran untuk dimasukkan ke panti tanpa sepengetahuan tantenya yang di Jakarta.
Gladis merasa hidupnya sangat bahagia. Selama di panti asuhan, dia mempunyai banyak teman, tempat tidur yang nyaman, bisa belajar dan sekolah. Sampai tak terasa sudah 3 tahun dia tinggal di panti. Namun ada suatu kejanggalan yang dirasakannya. Setiap bulan selalu ada 1-2 orang anak yang dibawa oleh ibu panti pergi dan tak pernah kembali lagi. Setiap ditanya kemana, Ibu panti hanya menjawab ‘’mereka sudah tinggal bersama kedua orang tua barunya’’.
Pada suatu malam, Gladis dan seorang temannya bernama Senja, hendak pergi ke kamar mandi lalu tanpa sengaja mendengar percakapan ibu panti dan seorang pengurus panti. Salah satu dari mereka berkata ‘’jangan sampai dari mereka ada yang sakit dan kurus, takutnya, harga ginjalnya turun di pasaran karena kualitasnya kurang!!’’ Gladis dan Senja kebingungan dengan apa yang mereka dengar. Pada akhirnya, mereka berdua mengerti apa yang dimaksud oleh kedua orang dewasa itu…
Akhirnya mereka berencana untuk kabur pada malam hari melewati tembok belakang panti. Tapi yang bisa keluar dari panti hanya Gladis sendiri. Sebab Senja sudah ditangkap oleh penjaga panti karena mereka ketahuan melarikan diri dari panti. Gladis pun terus melarikan diri sejauh mungkin dari panti agar tak ditangkap oleh penjaga. Gladis berusaha berlari ke arah jalan raya, agar bisa memberhentikan angkutan umum atau mobil agar bisa menumpang dan pergi jauh dari panti asuhan.
Tiba-tiba ada sebuah mobil bak lewat di hadapannya dengan kecepatan sedang. Lalu ia mencoba memberhentikan mobil itu, dan akhirnya mobil itu berhenti. Lalu dangan ragu-ragu Gladis bertanya kapada sopir, ’’maaf om saya mau numpang kira kira ke arah mana ya ?’’. Akhirnya sang sopir menjawab ‘’ke arah Jakarta neng…jadi mau ikut neng?’’ Seketika jantungnya berdebar mendengar kata “JAKARTA”, sebuah tempat yang dahulu pernah ia tinggalkan. Tanpa berfikir Panjang, ia pun segera menaiki bak belakang mobil peangantar ikan itu.
Saat di tiba di Jakarta,…Gladis bingung harus pergi ke mana. Karena tak punya saudara atau kenalan selain tantenya yang dulu memaksa setiap hari untuk mengamen di jalanan. Selama di Jakarta tak banyak yang bisa dilakukannya di sana. Selain mencari kerja agar tak terus menggelandang. Meski sudah berusaha berkeliling namun tak ada yang mau menerimanya. Sudah 2 hari berlalu, Gladis merasa sangat kalaparan. Tanpa berfikir panjang ia menghampiri sebuah warung makan dan menghitung jumlah uang ia bawa dari Surabaya. Tapi kurang bahkan hanya untuk membeli sebungkus nasi putih. Mau tak mau ia menghampiri ibu pemilik warung dengan suara yang gemetar ‘’permisi bu….maaf saya sudah 2 hari belum makan, kalau boleh saya bantu-bantu cuci piring di warung gak papa asal dikasih nasi…buat makan.’’
Ibu warung tersebut menatap Gladis dari atas sampai bawah. Tanpa berfikir panjang si ibu langsung pergi mengisi sebuah piring dengan lauk pauk yang lengkap. Gladis makan dengan lahap. Selepas makan, ia membantu ibu warung itu mencuci piring dan membersikan warung hingga perlahan matahari mulai tenggelam diganti kan oleh sang bulan.
Lalu, Gladis berjalan pergi setelah berterima kasih kepada ibu pemilik warung dan sang ibu meyuruhnya untuk datang esok hari untuk kembali bekerja di sana. Ia pun sangat berterima kasih. Tanpa disadarinya sebuah mobil truk melaju dengan kecepatan sangat cepat, dikendarai oleh seorang sopir yang sedang mabuk, menabraknya dan membuat Gladis tak sadarkan diri sama seperti apa yang dialaminya beberapa tahun lalu.
‘’Tolong ada pasien darurat dok…yang diantar ke ruang IGD,’’ teriak seorang perawat rumah sakit. Pada malam itu, Gladis mengalami sebuah kecelakaan. Kondisinya sangat parah akibat benturan yang cukup keras di bagian kepala, kerusakan di ginjal, serta membutuhkan donor darah golongan AB yang pada saat itu sedang kosong. Keadan bertambah bingung akibat sang korban tak memiliki identitas yang meyakinkan untuk menghubungi keluarga korban selain galang perak yang terukir nama ‘’GLADIS’’.
Kabar tersebut pun segera menyebar ke seluruh rumah sakit, tak lama ada seorang perempuan paruh baya, yang sangat dikenal di rumah sakit karena merupakan salah satu staf kebersihan yang ada di sana. Ia pun dengan tangan gametar membuka pintu ruang IGD, berdiri terpatung melihat seorang anak perempuan yang ia cari-cari salama 3 tahun terakhir yang sangat dirindukannya selama ini. Terbaring tak sadar kan diri…,sang wanita paruh baya itu pun merasa hancur sehancurnya.
Seminggu kemudian…
‘’Aduh,..’’ Sebuah rintihan kecil dari anak perempuan yang baru sadar, setelah koma selama seminggu penuh. Ketika sadar, datang seorang suster memeriksa kondisinya. Setelah itu suster itu langsung pergi tanpa banyak bertanya. Ketika tiba hari di mana ia diperbolehkan pulang, sang suster memberinya sebuah amplop. ‘’Mohon, apakah ini tagihan pembayaran rumah sakit?‘’ Namun perawat menggeleng, dan pergi begitu saja. Gladis bingung lalu membaca surat yang ada di dalam amplop tersebut.
‘’Untuk putriku tercinta, Gladis. Bersama surat ini, Bunda ingin menyampaikan bahwa betapa mencintai dan menyayangimu selama ini. Bunda minta maaf karena tidak bisa menemani kehidupan Gladis. Bunda sudah berusaha mencari di rumah tantemu. Bunda pikir semuanya terlambat. Tetapi lebih hancur bagi Bunda ketika melihatmu terbaring sakit. Bunda ingin memberikan kehidupan kepada Gladis. Semoga kamu selalu bahagia dan mengingat Bunda. Meskipun saat kamu tersadar tak ada Bunda di sampingmu, ingatlah bahwa Bunda akan selalu melekat pada diri Gladis. Jangan bersedih dan tetap melanjutkan hidup anakku.’’
Tak terasa air mata Gladus berlinang di pipi. Ia berlari ke perawat dan menanyakan mengenai perempuan yang telah menulis surat untuknya. Perawat itu menjelaskan bahwa perempuan yang telah mendonorkan ginjalnya itu adalah ibu kandung Gladis. Ia telah memberikan ginjal dan tabungan masa depan untuk Gladis.
Di sebuah pemakaman yang masih basah, Gladis memeluk nisan Bundanya. Ia menangis tersedu-sedu karena tak sempat melihat dan memeluk bundanya.
‘’Bunda, Gladis janji akan hidup dengan bahagia. Bunda harus lihat Gladis di atas sana. Gladis sangat mencintai Bunda. Terima kasih karena Bunda telah menjadi pahlawan dan memberikan seberkas cahaya kehidupan untuk Gladis,’’ ucap Gladis.
